Bukan Cerita Biasa
Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah
namun sulit di akhiri.
Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan
yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda
gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka,
penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.
***
Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir
didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah
jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria
yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.
Begini ceritanya,
Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja
selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula
mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam
cintanya.
Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup
lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai
kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha
memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya
menikmati dunia.
Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan
jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi
untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya
sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.
Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan
segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian
terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang.
***
Ada pula cinta yang coba memaksa, datang
menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari
hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu
begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah
yang tersisa.
Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk
Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan
jadi kenangan.
Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza,
korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa
hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski
ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.
Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan
kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.
T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk
Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya
berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu
anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas
airmatanya berderai.
“Kenapa Reza menangis.”
“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu.
Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar
Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.
“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar
ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.
Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan
menuju Anastasha.
“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa
yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,”
ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau
aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.
Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha.
“Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai
dibatas akhir.”
“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya
ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”
“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba
menghilang?”
“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku
menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti
ini.”
Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak
bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di
cintainya.
“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa
yang kamu inginkan dariku?”
“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila
aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku,
biarkan aku menghilang.”
“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan
pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan
aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang
lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.
“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara
sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa
membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari
lebih cepat dari biasanya.”
“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem
dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang
itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan
terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.
“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan
pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus
karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”
“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku
terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan
melakukannya.”
“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai
letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat.
Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang
berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi
saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk
bahagia.
SELESAI